Assalamu Alaikum... ^_^


welcome to the Melanie's world

Entri Populer

Jumat, 20 Januari 2012

Apa Sih Lauhil Mahfuz itu???

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mungkin note di bawah ini terlalu panjang, tapi bagi yg berminat untuk membacanya, insya Allah akan mendapat pencerahan.

Note ini merupakan penjelasan dari guruku Tukang Umuk atas pertanyaan mele mengenai Lauhil Mahfudz.

Pertanggal : 23 April 2011



Berikut pertanyaan mele :

PERTAMA :

'mas TU, menurut pengetahuan lw, apa sih Lauhil Mahfuz itu??'

kalo menurut w, seperti yg w baca d Al Quran, Lauhil Mahfuz itukan Kitab Induk, tmpat segala kejadian yg ada d dunia telah tercatat didalamnya, tdk ada sesuatu kejadianpun, melainkan telah tercatat di dlmnya...

KEDUA :

Apakah yg TELAH TERCATAT di dlm Lauhil Mahfuz bisa berubah?

Apakah Lauhil Mahfuz yg menyesuaikan dgn kejadian d dunia, atau manusia memang hanya mengikuti apa yg telah digariskan dlm Lauhil Mahfuz??

KETIGA :

Apa perbedaan Lauhil Mahfuz dgn Takdir / KetetapanNya??

Apa Lauhil Mahfuz sejalan dgn TakdirNya, atau sejalan dgn Keputusan2 yg dibuat manusia??

Kan kata lw, ketetapan adl sesuatu yg tdk bs qt ubah, tp qt punya pilihan, berarti bila qt memilih, kejadian yg akan terjadi di masa depan bisa sangat berbeda kan jika qt memilih pilihan yg lain dari yg hari ini qt pilih??

Itu berarti Lauhil Mahfuznya berubah??

Atau bahkan pilihan2 qtpun sudah tertulis d Lauhil Mahfuz??



Berikut jawaban dari Prof. Tukang Umuk :
JAWABAN ATAS PERTANYAAN PERTAMA:

Perhatikan kembali pertanyaan Lo: "'mas TU, menurut pengetahuan lw, apa sih Lauhil Mahfuz itu??' kalo menurut w, seperti yg w baca d Al Quran, Lauhil Mahfuz itukan Kitab Induk, tmpat segala kejadian yg ada d dunia telah tercatat didalamnya, tdk ada sesuatu kejadianpun, melainkan telah tercatat di dlmnya". Pemahaman Lo tidak salah, namun juga bukan berarti benar. hehehehhe.... tahu sebabnya ?

Perhatikan ilustrasi berikut sebagai PENGANTAR jawaban : Seorang anak kecil saat melihat bintang di langit pasti akan bilang bahwa bintang itu kecil. --> Sedangkan bg orang yg sudah dewasa & berpengetahuan akan mengatakan bahwa bintang yg tampaknya kecil itu sesungguhnya besar. Bahkan besarnya bisa melebihi bumi. ---> Di sisi lain seorang yg bijak akan berkata bahwa bahwa bintang di langit itu tetap kecil, sekalipun dirinya tahu bahwa bintang itu besar sekali ukurannya. Namun Ia sadar sebesar apapun bintang di langit, bintang itu cuma secuil dari ciptaan ALLAH. BINTANG ITU tidak sebanding dgn kebesaran ALLAH.

PERTANYAANNYA ADALAH : Mengapa tampak beda dlm menangkap PEMAHAMAN TENTANG BINTANG YANG DI LANGIT PADAHAL OBYEKNYA SAMA, tetapi kesimpulannya berbeda ? Hal itu tidak lain lebih disebabkan oleh TINGKAT WAWASAN SESEORANG.

Pada kasus di atas, anak kecil merupakan representasi pola pikir orang AWWAM. Sedang orang yg menganggap bintang itu besar adalah representasi dari kaum KHAWAS (ilmuwan). Adapun yg menganggap bintang itu tetap kecil sekalipun tahu sebetulnya besar adalah representasi kaum KHAWASH BIL KHAWASH (Filosuf). ---->

BEGITU PULALAH DENGAN LAUHIL MAHFUDZ. ===> (a). Bagi orang AWWAM: Lauhil Mahfudz adalah sebuah tempat dimana SEMUA HAL sudah tercatat dalam kitab Induk. ORANG AWWAM itu cirinya 2: Hanya melihat yg tampak, dan jika membaca suatu bacaan, pasti dipahami secara TEKSTUAL (text book atau harfiah).

Contoh kasus QS.54: 52-53وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ "Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis". Pada ayat lain misalnya: 6: 38/59 & 10:61 tampak bahwa yg dimaksud buku catatan itu ialah kitab LAUHIL MAHFUD. BERDASARKAN INFORMASI QURAN benar bahwa "SEGALA SESUATU URUSAN (besar kecil) telah tercatat dlm kitab LAUHIL MAHFUD. AL-QUR'ANNYA TIDAK SALAH. Hanya jika dipahami sebatas itu maka PEMAHAMAN YANG MODEL SEPERTI ITU MENUNJUKKAN DERAJAT WAWASAN SEBAGAI ORANG AWWAM. Bagi orang awwam, kebenaran informasi dibaca secara tekstual. BERDASARKAN AYAT-2 di atas, oleh orang awam disimpulkan bahwa hidup itu tak lebih seperti SANDIWARA. Semua kelakuan manusia sudah diskenariokan olah ALLAH dlm kitab LAUHIL MAHFUDZ. Manusia cuma menjalankan perannya. Mele, 90% umat Islam berpandangan seperti di atas. Dalam khazanah ILMU KALAM, mereka yg berpikiran model seperti di atas dikategorikan KAUM JABARIYYAH.

Mele, jika pandangan di atas kita terima. PERTANYAANNYA ADALAH : Kalau begitu ALLAH tidak adil jika nanti orang-orang Kristen di masukkan ke Neraka. Mengapa ? Sebab mereka nanti akan menuntut pd Tuhan, mengapa dirinya ditetapkan lahir di keluarga Kristen, sehingga hidup secara Kristen. Kawin secara kristen. Mati secara Kristen. Haruskah dirinya dihukum oleh sebab sesuatu sudah ditetapkan dari Tuhan. Dimana keadilan Tuhan kalau begitu jika hal itu benar adanya ? Tuhan berarti pilih kasih. kenapa menetapkan "A" berperilaku jahat lalu di masukkan neraka, sedangkan si "B" ditetapkan berbuat baik, makanya masuk Surga. Atas dasar apa Tuhan menetapkan seperti itu ? ===> Pertanyaan-2 model itu MUSTAHIL ada dipikiran kaum AWWAM. Pikirannya tidak sampai (mirip anak SD). Pertanyaan-2 itu hanya dimiliki kaum KHAWASH (alim). Karena itu pemahaman LAUHIL MAHFUDZ orang AWWAM dengan Kaum KHAWASH pasti berbeda. ===> (b). Bagi KAUM KHAWASH, ayat di atas dipahami secara metaforis. Sebelum sampai pd kesimpulan, mereka melakukan kajian secara mendalam tentang makna kata وَكُلُّ شَيْءٍ (segala sesuatu). Apakah yg dimaksud dgn sebenarnya kalimat "segala sesuatu itu ?".

Mele, jika Lo baca ayat sebelum dan sesudahnya maka akan tampak bahwa hal itu terkait dgn SUNNATULLAH dan TAKDIR. Sunnatullah menyangkut hukum sosial, sedangkan takdir menyangkut hukum alam. Mele, jika kita hidup dlm sebuah sistem manajemen & adnimistrasi yg baik, pasti segala hal dpt terkontrol & diketahui dgn baik. Seorang direktur, untuk mengetahui apa yg dilakukan karyawannya, tidak perlu turun langsung. Apakah karyawannya hadir dan tidak hadir, tidak perlu di absen kaya murid di sekolahan. Dalam pandangan kaum KHAWASH, makna LAUHIL MAHFUDZ itu adalah nama lain dari TAKDIR (hukum alam) & SUNNATULLAH (hukum sosial). Atas dasar itu kaum KHAWASH berpendapat bahwa kata "segala sesuatu" وَكُلُّ شَيْءٍ pd ayat yg terkait dgn LAUHIL MAHFUD bukanlah tindakan PARSIAL MANUSIA.
lanjutan soal LAUHIL MAHFUD, sebelum membicarakan LAUHIL MAHFUD : Gw akan menyinggung tentang RUKYATUL ABSAR. Melanie, dalam al-Quran kita jumpai banyak ayat yg menceritakan tentang PENGGAMBARAN kehidupan Surga, Neraka, Mizan, Shirotol Mustaqim, dan Pengadilan, serta melihat Tuhan (a). MIZAN à Melanie, bagi orang KHAWASH: MIZAN itu bukanlah timbangan seperti yg dibenak kita selama ini. Misalnya Gini, untuk tahu dgn benar tentang berat badan Lo, mesti ditimbang dulu. Untuk tahu tinggi badan Lo mesti diukur dulu.---> Nah masak untuk memasukkan neraka seorang TUHAN perlu menimbang dulu. Masak Tuhan melihat catatan dulu. Kalau itu dilakukan maka berarti TUHAN tidak MAHA TAHU. Mele, perhatikan secara seksama contoh kalimat yg Gw buat berikut ini : seorang suami yg marah pada seseorang yg telah menyentuh istrinya, maka sang suami akan berkata "Awas ya kalau sampai kamu berani menyentuh istriku, maka aku akan membuat PERHITUNGAN denganmu !!!!". Kata "PERHITUNGAN" yg terdapat pd kalimat di atas tentu maknanya bukan PERHITUNGAN angka 1, 2, 3, 4... , tetapi kata "PERHITUNGAN" sama artinya dengan "PEMBERIAN ANCAMAN". Jika ada yg berani menyentuh istrinya maka sang suami akan memberi perhitungan pd orang tersebut. Misalnya dihajar, dll. hehehe ---> BEGITU PULALAH dengan MIZAN atau HISAB yg berarti perhitungan maksudnya ANCAMAN. BUKANKAH ALLAH telah MENGANCAM para pendosa untuk dimasukkan ke Neraka ?

PERTANYAANNYA ADALAH: mengapa ALLAH menurunkan ayat yg menceritakan kisah HISAB / MIZAN di Akherat. Apa MAKSUD yg sebenarnya dari ALLAH ???????????????????

Perhatikan dgn CERMAT AWAL KATA pd PEMBUKAAN firman ALLAH pd QS.13:35 di bawah ini:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ PERUMPAAN surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). Mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.

Pada ayat di atas sangat jelas dimulai dgn kata مَثَلُ الْجَنَّةِ (PERUMPAAN SURGA), kata perumpaan berarti bukan yg sebenarnya. Itu hanyalah penggambaran. PERTANYAANNYA ADALAH : Mengapa perlu ADANYA PENGGAMBARAN ? Karena kenyataan hidup ada MANUSIA yg hanya paham jika dijelaskan dgn model seperti itu. Dengan penjelasan seperti maka SETIDAK-TIDAKNYA BAGI ORANG AWWAM akan LEBIH TERMOTIVASI MASUK SURGA, dan TAKUT MASUK NERAKA. RASULULLAH S.A.W ketika ditanya tentang Surga, Beliau bersabda: "SURGA ADALAH JENIS KENIKMATAN YANG OLEH MATA BELUM PERNAH MELIHATNYA, TELINGA BELUM PERNAH MENDENGARNYA, DAN PIKIRAN BELUM TERBERSIT".----> Itu berarti Surga adalah kenikmatan yg LUAR BIASA NIKMATNYA. Tak bisa dijelaskan. Nah adapun penjelasan / penggambaran Surga seperti yg diceritakan dlm Quran MERUPAKAN JAWABAN BAGI umat Nabi Muhammad yg tak semuanya ber-IQ tinggi. Karena itu mesti dijelaskan dengan model METAFORIS (penggambaran).

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (14:4).

Atas dasar QS.14.4 tampak jelas bahwa SESUATU ITU MESTI DIJELASKAN sesuai dengan SUBYEK yg dihadapi. Sesuai POLA PIKIR YANG BEKEMBANG DI MASYARAKAT ITU. Pada masa itu misalnya, bagi ORANG ARAB yg jauh dari sumber-2 air, maka ketika mendengar bahwa kelak jika masuk Surga bakalan diberikan sungai, tentu itu kabar yg sangat membahagiakan. Kerinduan ketemu sungai sudah lama dinanti-nantikan. Makanya ALLAH memberikan model penjelasan SURGA secara METAFORIS agar mereka paham.

Mele, begitu pula dgn SHIROTHOL MUSTAQIM (jembatan titian yg rambut dibelah tujuh) juga LAUHIL MAHFUDZ, serta PENGGAMBARAN ALAM PADANG MAHSHAR : semuanya bersifat METAFORIS. ==> Nah ayat-ayat yg model METAFORIS oleh kebanyakan orang dipahami secara textbook. Tak terkecuali oleh para Ustadz dan Dai.

Mele, saat Gw masih SD, guru ngaji Gw berkata: bahwa jika Gw ikut shalat Jumat dan duduk di depan, serta datangnya lebih duluan, maka kelak di akherat bakalan diberi Unta. Tentu sj saat itu Gw termotivasi ingin masuk Surga dan naik Unta. Unta seperti apa, Gw juga tidak tahu. Yg jelas dibenak Gw saat itu, Unta binatang yg paling bagus. Kata guru ngaji Gw, jika Gw shalat Jumat tapi datangnya belakangan, maka kelak jika di akherat bakal naik telur. Tentu sj Gw tidak mau naik telur. Gw ingin naik Unta. Dan penjelasan dari guru Gw itu mendorong Gw rajin datang duluan jika tiba saatnya shalat Jumat.----> Setelah Gw besar dan menekuni ilmu-ilmu tafsir, Gw bermaksud mencari KEBENARAN atas info yg Gw dpt di masa kecil itu. TAK SATUPUN LITERATUR yg Gw jumpai. AKHIRNYA Gw berkesimpulan bahwa apa yg disampaikan oleh Guru Gw itu bersifat METAFORIS. ---> Namun oleh guru Gw yg hingga saat ini ALHAMDULILLAH masih hidup (usianya mungkin 60-an), keyakinan bahwa kelak bakalan naik UNTA jika datang Jumatannya lebih awal, TERNYATA DIYAKINI HINGGA SEKARANG. APAKAH SALAH ???????? Tentu sj tidak. Guru Gw adalah Ustadz di kampung yg tidak pernah mengakses pengetahuan secara lanjut, jadinya ilmu yg diketahuinya tidak pernah meningkat. Dan yg demikian itu pulalah yg terjadi pd Umat Islam. WAWASAN AGAMANYA DI MASA KECIL, dibawa hingga usia dewasanya. Itu berarti, umat Islam Indonesia secara usia sudah pada Dewasa / Tua, namun dari segi pola pikir tentang agama masih level anak-anak, atas dasar keterangan di atas pula dpt disimpulkan:

(a). AL-QURAN itu petunjuk bagi siapa saja (orang awam, orang Khawash, orang Khawash bil Khawash). Itu artinya Al-Quran berlaku untuk universal

(b). Oleh karena yg sifatnya Universal, maka tidak tepat mempertentangkan MANAKAH PENDAPAT YANG PALING BENAR ANTARA wawasan orang Awwam dgn orang Khawash ? Mengapa ? Karena semua pendapat baik level Awwam maupun level Khawash sesungguhnya HANYALAH MENUNJUKKAN DERAJAT INTELEKTUALITAS PIKIRAN. ---> Anak SD, pola pikirnya ya begitu. Menuntut lebih ya tidak bisa. Ketika kita ditanya dimanakah Tuhan??. Kalau yg tanya anak kelas 1 SD, tentu mesti dijelaskan dengan METOFORIS. Penjelasan ILMIAH tentu tidak nyambung. Bermaksud menjelaskan TUHAN pd anak SD kok dgn teori ilmiah, pastilah orang yg menerangkan itu TIDAK SADAR DIRINYA DENGAN SIAPA DIA BERHADAPAN. Lucu to ? hehehe...

(c). Kita mesti arif dlm menyikapi perbedaan pola pikir. Toh baik orang awwam maaupun khawash, asalkan bertaqwa pasti masuk Surga, dan Surga yg sama.

(d). Tentu sj ada perbedaan orang yg awaam dgn yg khawash. RASULULLAH memerintah umatnya belajar dari usia bayi hinggi ke liang lahat, itu artinya umat Islam harus cerdas, tidak boleh menjadi awwam. Kok kenyataannya saat ini masih awwam terus berarti itu tanda mereka tidak sungguh-2 dalam mencari pengetahuan, karena itu ilmunya mandeg. stagnan. Hehehe

3. LANJUTAN JAWABAN POINT PERTAMA

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ "

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis". (54: 52-53 )

(a). MEMAKNAI kata وَكُلُّ شَيْءٍ (segala sesuatu) pd QS.54: 52-53

Mele, perhatikan ANALOGI berikut. ---> Suatu ketika PRESIDEN berkata kepada para menterinya: "SEGALA SESUATU urusan yang menyangkut hajat orang banyak mesti aku KETAHUI & dan SEIJINKU".

Mele, tentu saja hajat warga negara Indonesia banyak sekali. Ambil kasus persoalan NIKAH sj. Persoalan nikah menyangkut hajat orang banyak. PERTANYAANNYA ADALAH : apakah tiap-tiap individu dari warga negara Indonesia yg akan nikah mesti PEMBERITAHUAN dulu & minta IJIN PRESIDEN ? MENGAPA PERTANYAAN INI KUMAJUKAN ? Sebab dlm pernyataan Presiden terdapat klaosul "SETIAP URUSAN yg menyangkut hajat orang banyak mesti sepengetahuan & seijin presiden". ---> KALAU BEGITU BAGAIMANAKAH CARANYA AGAR SEGALA URUSAN yg menyangkut hajat orang banyak itu dpt ditangani Presiden ?

Jawabannya ialah lewat SISTEM PERUNDANG-UNDANGAN & SISTEM BIROKRASI. Jadi untuk mengetahui & mengontrol alur transaksi dari para warga negara presiden cukup mempercayakan pada sebuah SISTEM yg telah dirancang sedemikian rupa, sehingga memungkinkan seorang presiden mengetahui apa yg terjadi pada warga negaranya. ----> BEGITU PULALAH DENGAN ALLAH.

ALLAH telah menciptakan ALAM. Bersamaan dengan terciptanya Alam, tercipta pula HUKUM ALAM (TAKDIR). Bersamaan dengan terciptanya manusia, tercipta pula SUNNATULLAH (HUKUM SOSIAL / HUMANIORA), yg dengan HUKUM ALAM & HUKUM HUMANIORA / SOSIAL itulah kata وَكُلُّ شَيْءٍ (segala sesuatu) yg terdapat pd QS.54: 52-53 dpt diterapkannya.

Itu berarti kata وَكُلُّ شَيْءٍ (segala sesuatu) pd ayat di atas tidak bisa diterapkan untuk memaknai tindakan manusia. SELURUH TINDAKAN MANUSIA ADALAH HASIL PERBUATAN MANUSIA SENDIRI. Karena itu SANGAT TIDAK TEPAT jika kata وَكُلُّ شَيْءٍ (segala sesuatu) yg terdpt pd QS.54: 52-53 ditafsirkan sebagai SEGALA SESUATU PERBUATAN MANUSIA SUDAH DISKENARIOKAN OLEH ALLAH.

Mele, bertitik tolak dari urian Gw di atas tampak bahwa:

(a). Ayat yg terkait LAUHIL MAHFUDZ masuk kategori ayat METAFORIS. Dan ayat METAFORIS tergolong ayat DZHONNY. Dalam ULUMUL QURAN (Ilmu-Ilmu Al-Quran), ada 6 jenis ayat: Makkiyah, Madaniyyah, Muhkamat, Mutasyabihat, Qothi, & DZOHHNY. DZONNY adalah ayat yg jika dibaca menimbulkan interpretasi lebih dari 1 makna. MENGAPA SELAMA INI TERJADI PERBEDAAN PEMAHAMAN DALAM MEMAHAMI AYAT AL-QURAN ???? Salah satu jawabannya adalah karena REDAKSI AYAT AL-QURAN itu SENDIRI yg memang menimbulkan makna lebih dari 1 interpretasi.

(b). LAUHIL MAHFUDZ sesungguhnya adalah nama lain dari TAKDIR/SUNNATULLAH

4. Mengenai HIDAYAH & AKAL: MANAKAH YANG LEBIH DULU ?

PENGANTAR : hidayah ALLAH sesungguhnya sudah turun bersamaan dengan terciptanya jagad ini.

Didalam QS.41: 53

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar".

Kata آيَاتِنَا (tanda-tanda kekuasaan Kami) pd ayat di atas sama artinya DENGAN PETUNJUK atau HIDAYAH, yg itu berarti seluruh yg ada di muka bumi ini sesungguhnya adalah HIDAYAH. Hanya persoalannya adalah APAKAH MANUSIA MAMPU MENANGKAP HIDAYAH ITU ?????????

HIDAYAH itu ibarat SINAR MATAHARI yg menyebar ke segenap penjuru, yg di dalam sinar Matahari itu terkandungi banyak potensi (vitamin D, listrik, dll). Suatu ketika kita membangun rumah menghadap ke Barat, dan di belakang rumah tidak tersedia pintu/jendela. Akibatnya sinar Matahari di waktu pagi tidak pernah masuk ke rumah kita. Padahal rumah sangat memerlukan sirkulasi udara yg segar. SIAPAKAH YANG SALAH jika SINAR MATAHARI TIDAK MASUK RUMAH KITA ? Tentu kita sendiri to ? Karena kita sengaja membuat hijab / penghalang bagi munculnya cahaya di rumah kita.----> BEGITU PULA DENGAN HIDAYAH. Hidayah ALLAH yg telah ditebarkan dlm kesegenap penjuru, tidak akan masuk dalam diri kita jika sejak awal PINTU HATI KITA TELAH TERKUNCI. Apapun penjelasan, tidak masuk ke otak, jika sejak awal PIKIRAN kita sudah menutup diri bagi masuknya HIDAYAH. Contoh kasus: ABU THOLIB (pamannya RASULULLAH). Ketika hendak wafat, sekalipun telah diminta membaca Syahadat supaya bisa mendapatkan ampunan dari ALLAH, ternyata ABU THOLIB tidak mau. ABU THOLIB sendirilah yg menutup masuknya hidayah dlm hatinya.

Demikian penjelasan dari Gw.. hehehe..

Sumber : Dosen Universitas Lidah Buaya, Prof. Tukang Umuk.

Note :
Thx all out to my lecturer, Tukang Umuk.

Mudah2an bermanfaat buat yg membacanya..*_*



see this on my FB.. *_*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar