Assalamu Alaikum... ^_^


welcome to the Melanie's world

Entri Populer

Kamis, 19 Januari 2012

RAMAYANA : PERNIKAHAN DEWI SUKESI

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150577217153765

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM

ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH



Dalam agama HINDU, terdapat 2 kitab SRUTI (semacam Al-Quran) dan SMERTI (semacam Hadits).



Menurut mereka, RESI adalah orang yg diberi wahyu oleh Tuhan (istilah dlm Islam, RESI itu NABI). Nah ada sebagian RESI yg cara menyampaikan ajarannya lewat kisah. Menurut RESI, jika ajaran agama disampaikan melalui kisah maka bakalan mudah dipahami umatnya.



Atas dasar itu diciptakanlah kisah RAMAYANA & MAHABARATA. Itu berarti kisah RAMAYANA & kisah MAHABARATA sesungguhnya adalah bentuk metode penyampaian ajaran agama HINDU. Oleh karena bentuknya kisah maka mudah diterjemahkan ke dalam dunia teater. Dan pada masa dulu, salah satu jenis teater yg ada adalah WAYANG KULIT. Dan dari situlah AKHIRNYA pertunjukan WAYANG KULIT berisi kisah RAMAYANA & kisah MAHABARATA. Itu terjadi pada masa kerajaan MAJAPAHIT. Kisah RAMAYANA cerita seputar RAMA-SHINTA, sedangkan kisah MAHABARATA bercerita tentang keturunan keluarga BARATA yg bermusuhan terus (perang saudara; mirip Bani Israel dgn Umat Islam padahal leluhurnya sama, yaitu Nabi IBRAHIM A.S).



Simaklah penggalan kitab RAMAYANA yg menceritakan episode PERNIKAHAN DEWI SUKESI.



PERNIKAHAN DEWI SUKESI



Di kerajaan ALENGKA, hiduplah seorang putri raja bernama DEWI SUKESI. Ia sangat cantik. Kecantikan DEWI SUKESI terkenal dlm dunia pewayangan. Akibatnya banyak cowok-2 dari berbagai kalangan ingin mempersuntingnya. Oleh sebab banyaknya peminat maka DEWI SUKESI membuat sayembara bahwa "Siapa saja asalkan mampu menjelaskan isi kitab SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU, maka orang itulah yg akan dipilih jadi suaminya".



Prabu SUMALI (ayah dari DEWI SUKESI) sudah menjelaskan bahwa syarat yg dimajukan oleh putrinya itu terlalu berat. Kitab itu tergolong larangan Dewa. Hanya Dewa yg boleh menjelaskannya. Dan dunia pewayangan, manusia yg tahu isi kitab tsb jumlahnya terbatas. Tidak setiap Begawan (ilmuwan) mengetahuinya. Dan Prabu SUMALI termasuk orang yg tahu isi kitab tsb. Tetapi dirinya tidak berani menerangkan ke orang lain, karena begitulah aturan mainnya. Namun DEWI SUKESI bersikukuh, hanya pria yg mampu menjelaskan isi kitab SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU yg berhak menjadi suaminya.



Di negri LOKAPALA, diperintah oleh seorang raja bernama Begawan WISRAWA. Lalu dia mengundurkan diri sebagai raja, dan ingin hidup menjadi sufi. Kekuasan diserahkan kepada anaknya Prabu DANARAJA. Kabar sayembara pernikahan DEWI SUKESI sampailah ke negeri LOKAPALA, dan Prabu DANARAJA mengetahui kalau ayahnya paham isi kitab SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU. Karena itu ia meminta ayahnya supaya turut sayembara & mengatasnamakan dirinya. Prabu DANARAJA ingin menikahi DEWI SUKESI.



Berangkatlah sang Ayah menjadi DUTA UNTUK ANAKNYA. Sesampai di kerajaan ALENGKA, begawan WISRAWA disambut suka cita oleh Prabu SUMALI (Begawan WISRAWA itu kakak seperguruan dari Prabu SUMALI). Setelah menjelaskan maksud kedatangannya maka dipersilakanlah Begawan WISRAWA menemui DEWI SUKESI. Setelah ketemu, Begawan WISRAWA pun segera menjabarkan isi SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU kepada DEWI SUKESI. ---> Begitu selesai dijabarkan isi kitab tsb, DEWI SUKESI LANGSUNG BERSEDIA DINIKAHI begawan WISRAWA. Tetapi begawan WISRAWA MENOLAK, dengan alasan dirinya hanyalah DUTA UNTUK ANAKNYA. Dirinya hanya mewakili Prabu DANARAJA. Karena itu yg berhak menikahi adalah Prabu DANARAJA.



Dalam dunia pewayangan, kitab SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU, hanya Dewa yg boleh menyampaikan pd manusia. Dan Dewa pernah menyampaikan isi SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU kepada begawan WISRAWA & kepada Prabu SUMALI. Kedua orang itu sekalipun tahu isinya, dilarang menyampaikan ke orang lain. Jika dilanggar maka akan kena sanksi dari Dewa. Begitu aturan mainnya. Nah melihat larangan Dewa dilanggar oleh Begawan WISRAWA, maka para dewa marah. Pemimpin para Dewa, namanya BATARA GURU memerintahkan BATARA KAMAJA supaya menyusup ke dalam tubuh Begawan WISRAWA, sementara DEWI RATIH menyusup ke tubuh DEWI SUKESI (KAMAJAYA & DEWI RATIH ITU adalah golongan dewa yg bertugas membagi cinta. Kalau dlm agama Islam, Dewa itu mirip Malaikat. Nah siapa sj yg kemasukan ruh batara KAMAJAYA & DEWI RATIH, maka yg bersangkutan pasti jatuh cinta. Begitu aturan main dlm dunia pewayangan).



AKHIRNYA Begawan WISRAWA & DEWI SUKESI dikuasai nafsu cinta. Keduanya berzina. Hasil perzinahan mereka melahirkan 3 raksasa: RAHWANA atau DASAMUKA, KUMBAKARNA, SARPAKENAKA. Dan setelah mereka tobat, lahirlah anak yg ke empat berwujud manusia biasa, bernama WIBISANA.



KETERANGAN (A). Ada perbedaan FILSAFAT TIMUR dgn FILSAFAT BARAT. Jika Filsafat TIMUR berasumsi bahwa kebenaran itu sudah ada, yaitu YANG MAHA BENAR. Karenanya tugas manusia adalah bagaimana caranya supaya bisa menuju kepada YANG MAHA BENAR.---> SEBALIKNYA, dlm Filsafat BARAT berasumsi bahwa kebenaran belum ada, karenanya tugas manusia adalah mencari kebenaran. AKIBAT dari cara pandang yg beda maka lahir pula sikap yg beda. Dalam Filsafat TIMUR tema pokoknya adalah bagaimana bisa mencapai kesempurnaan diri (menyatu dgn Tuhan), maka pd Filsafat BARAT temanya adalah meragukan dan menguji kebenaran supaya mendapatkan kebenaran yg sejati. Atas dasar itu maka corak Filsafat TIMUR terkesan religius. Dan pada umumnya ajaran-ajaran FILSAFAT TIMUR disampaikan dgn bahasa simbolis dlm bentuk: Puisi, Syair, Nyanyian dan KISAH. Oleh karena sifatnya simbolis maka melahirkan banyak tafsiran. Nah tafsiran-tafsiran atas puisi, syair, nyanyian dan kisah itulah yg kemudian disebut FILSAFAT KETIMURAN.



Apa hikmah dari KISAH PERNIKAHAN DEWI SUKESI & DENGAN BEGAWAN WISRAWA YANG MELAHIRKAN RAKSASA ??????????????



Perhatikan kata-kata kunci berikut:

a. Kitab SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU

b. Begawan WISRWA

c. Raksasa

d. Begawan WIBISANA



untuk memudahkan pemahaman :

kitab SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU itu mirip "Buah Khuldi yg terlarang untuk dimakan oleh NABI ADAM & HAWA". Bedanya adalah jika Khuldi merupakan jenis makanan, maka SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU berupa kitab. Dalam dunia PEWAYANGAN: Siapapun manusia yg membacakan kitab itu kepada orang lain maka DIA MELANGGAR LARANGAN TUHAN (semacam dosa besar). Itu point PERTAMANYA.



---> Maka ketika Begawan WISRAWA membacakan isi kitab itu pada DEWI SUKESI mengandung makna bahwa SEORANG TOKOH AGAMA TELAH BERANI melanggar LARANGAN TUHAN. Itu point KEDUA.



Nah dari situ pesan yg hendak disampaikan oleh Resi WALMILKI ialah MANUSIA (sekalipun tokoh agama yg paham aturan agama), tidak ada jaminan padanya bahwa Imannya pasti tinggi. Dan Begawan WISRAWA adalah potret dari contoh orang yg paham agama tetapi melanggar Syariat. Dan bukankah fenomena seperti itu kita saksikan ? Seorang tokoh agama berani melakukan dosa besar, misalnya berzina. PERTANYAANNYA ADALAH: Apakah kalau yg melanggar Syariat itu seorang tokoh agama maka tidak akan dihukum Tuhan ? PASTI DIHUKUM JUGA. Hukuman TUHAN berlaku bagi siapa sj yg melanggarnya. Terlebih bagi tokoh agama.



---> PERTANYAANNYA ADALAH APA HUKUMAN BAGI SEORANG TOKOH AGAMA YANG MELANGGAR SYARIAT ? Pastinya di dunia dia mendapatkan sangsi moral dari masyarkat. Kasus K.H. Zaenuddin MZ dgn artis...., yg diisukan berzina sempat heboh. Akibatnya Zaenuddin dicemooh. BEGITUPUN dalam dunia PEWAYANGAN mengenal adanya sangsi moral.



Dalam dunia PEWAYANGAN: Raksasa itu simbol KEKUATAN. Kejahatan. Diktator. Rakus. Kanibal. Jorok. Anti Kemapanan, dll (segala yg buruk).



---> Maka ketika Begawan WISRAWA & DEWI SUKESI melahirkan 3 putra Raksasa sama artinya mereka memperoleh sangsi moral dari masyarkat. Dengan kata lain BEGAWAN WISRAWA mendapatkan aib akibat dari melanggar Syariat. Akibatnya Begawan Wisrawa jadi buah bibir di masyarakat. Dicemooh, masak seorang tokoh agama anaknya kok Raksasa. --- BERTITIK TOLAK DARI KETERANGAN DI ATAS KIRANYA dpt ditarik pemahaman bahwa siapapun yg melanggar Syariat pasti dpt hukuman, tidak peduli apakah dia Ustadz/dai/Ulama.



Dan kisah Begawan WISRWA berani membacakan SATRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU padahal itu adalah larangan Tuhan hanyalah contoh nasib seorang tokoh agama yg dihukum oleh Tuhan akibat ulahnya sendiri.



Begitu isi pesan yg terkandung dlm penggalan kisah di atas.

Gimana nilai-nilai filosofisnya: seru tidak ??????????? Setelah mereka dihukum Tuhan dgn mendapatkan aib yg besar, lalu mereka bertobat Nasuha. Pertobatan mereka diterima, sehingga pd waktu melahirkan putra yg ke 4: lahirlah sosok bayi yg bukan berwujud Raksasa lg. Putra ke 4 dari pasangan Begawan WISRAWA dgn DEWI SUKESI, diberi nama WIBISANA. Dan dalam jagad Pewayangan: sosok WIBISANA dikenal sebagai TOKOH AGAMA YANG BIJAKSANA & PEMBERANI layaknya UMAR BIN KHATTAB.



Umumnya kisah Wayang dipahami sebagaimana apa yg ada dalam cerita. Bahkan pun sebagian Dalang juga gagal menangkap pesan BAHASA SIMBOLISnya. Untuk menafsirkan teks kitab suci (termasuk kisah RAMAYANA) bisa menggunakan metode HERMENEUTIKA.

Selayang tentang HERMENEUTIKA. Dalam Mitologi Yunani ada yg namanya DEWA HERMENES. Dewa tsb tugasnya memintal benang. Hasil pintalan disebut TEXTUS (kemudian di-Inggris-kan jd TEXTILE, & diIndonesiakan jd TEKSTIL). TEXTUS-TEXTILE-TEKSTIL adalah lembaran-lembaran. Oleh karena ia suatu lembaran maka disebut TEKS. TEKS itu sediri adalah KATA-KATA YANG TERTULIS. Dan suatu kata-kata yg lazim dituliskan pd lembaran-lembaran pd masa lalu hanya terbatas pada TEKS KITAB SUCI ---> Atas dasar pandangan demikian maka DEWA HERMENES yg bertugas memintal benang itu sama artinya dengan TUKANG MENAFSIRKAN TEKS KITAB SUCI. Sebagian filosuf Muslim berpandangan bahwa DEWA HERMENES itu tidak lain adalah NABI IDRIS A.S



وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ



Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu (40:78)



وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat" (16:36).



Setiap umat (golongan/komunitas/etnis/suku) yg ada di jagad ini berarti sudah ada Nabi. Di Jawa ada Nabi. Di suku Aborigin ada Nabi, dll. Dan Nabi MUHAMMAD adalah penutup dr semua Nabi yg ada. Oleh sebagian filosuf Muslim: SOKRATES, PLATO, ARISTOTELES, dll sesungguhnya adalah NABI bagi kaum YUNANI. Ajaran-2 mereka banyak selaras dgn isi Quran.



Kembali pada DEWA HERMENES. Oleh karena tugas utamanya adalah menafsirkan teks kitab suci, maka istilah HERMENEUTIKA diartikan sebagai ilmu yg mempelajari interpretasi terhadap suatu teks. Dalam khazanah Islam, HERMENEUTIKA sinonim dengan TAKWIL. TAKWIL adalah menafsirkan sesuatu sesuai dgn kehendak awal. Jika itu berhubungan dgn kitab suci maka maksudnya ialah menafsirkan teks sesuai yg dikehendaki Tuhan. Jika itu berkaitan dengan novel/puisi maka maksudnya ialah menafsirkan teks sesuai makna yg dikendaki oleh pengarang tsb. Oleh karena kisah RAMAYANA tergolong teks kitab suci, maka penafsran/interpretasinya tentu harus sesuai dgn makna yg dikehendaki dari Tuhan. Itu artinya untuk menafsirkan kisah Ramayan tidak bisa sembarangan makna dpt diterima sebagai nilai kebenaran. Dan untuk dpt mengungkap penafsiran yg sesuai dgn yg dikehendaki RESI, kiranya dpt digunakan metode HERMENEUTIKA.

Dan di dalam kaedah HERMENEUTIKA, disyaratkan orang harus tahu dulu:

(a). Latar Belakang timbulnya teks itu,

(b). Situasi sosial/politik/budaya pada masa teks itu dibuat,

(c). Biografi pengarang teks itu,

(d). situasi kekinian. Bertitik-tolak dari langkah-2 di atas maka kiranya sistem kerja



HERMENEUTIKA dpt disimpulkan sebagai upaya mendekonstruksi teks. DEKONSTRUKSI artinya membongkar lalu menyusun ulang (mirip permainan puzzle). Atas dasar itu, sekalipun pengarang teks dan penafsir teks jarak waktunya sangat jauh dan berbeda, melalui metode HERMENEUTIKA kiranya perbedaan jarak & tempat itu dpt dijembatani. Dalam kasus kisah RAMAYANA, untuk dpt menangkap interpretasi yg sesui dgn yg dikehendaki sang Pengarangnya maka: mau tidak mau kita mesti mengenal biografi RESI WALMILIKI latar belakang timbulnya kisah itu, serta setting budaya/politik pd masa itu. Jika itu sudah dilakukan, INSYAALLAH hasil interpretasinya dpt dikatakan TERUJI SECARA ILMIAH.



Seru tidak konsep HERMENEUTIKAnya ???????



Narasumber : Tukang Umuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar