Assalamu Alaikum... ^_^


welcome to the Melanie's world

Entri Populer

Jumat, 20 Januari 2012

Kumpulan Puisi Taufik Ismail

ini link di FB mele
BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM


ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH


Hmmm... entah kenapa, jadi suka puisi Taufiq Ismail.. mungkin gara2 mas TUKANG UMUK sering ngasih puisi, baik karangan Gusmus atau Taufik Ismail.. share dikit ah.. hehe..

selamat menyimak..





TAUFIQ ISMAIL

http://taufiqismail.com/



Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia



I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini

II

Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia.



III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat¬sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar¬besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak putus dilarang-larang

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula pembantahan tarang-terangan yang merupakan dusta terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan,

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.



IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia.

1998



Malam Seribu Bulan

Malam biru hitam

Di planit tua ini

Ketika margasatwa

Suhu. Suara. Perpohonan

Embun mengendapkan intan

Angin membisiki hutan

Gunung jadi keristal

Bisu,

Sungai-sungai menahan

Napasnya

Sumbu bumi berhenti

Ketika sangkakala angkasa

Ditiup pelahan

Dalam suara

Firdausi

Ketika Mukjizat turun

Ketika Sifat Rahim mengalun

Di planit tua ini

Dan gerbang kosmos

Dibuka

Dalam angin berkelepakan

Sayap-sayap malaikat

Dengan cahaya suarga

Meluncur-luncur

Melinangi bumi

Ketika bulan akan sabit

Dan berjuta bintang

Gemerlap

Dan manusia menangis

Di bumi

Di bawah Nur Ilahi

Pada malam benderang

Ketika margasatwa senyap

Waktu pun berhenti

Embun membasahi dahi

Pohon-pohon menunduk

Wahai:

Mukjizat telah turun

Sifat Rahim mengalun

Lelaki itu

Perempuan itu

Menangis dalam syukur

Berair mata dalam doa

Dalam teduh Mukjizat dan Keampunan

Ketika bulan belum sabit

Ketika malam seribu bulan.



1965



Membaca Tanda-Tanda



Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas

dari tangan

dan meluncur lewat sela-sela jari kita



Ada sesuatu yang mulanya

tak begitu jelas

tapi kini kita mulai merindukannya



Kita saksikan udara

abu-abu warnanya

Kita saksikan air danau

yang semakin surut jadinya

Burung-burung kecil

tak lagi berkicau pagi hari



Hutan kehilangan ranting

Ranting kehilangan daun

Daun kehilangan dahan

Dahan kehilangan

hutan



Kita saksikan zat asam

didesak asam arang

dan karbon dioksid itu

menggilas paru-paru



Kita saksikan

Gunung memompa abu

Abu membawa batu

Batu membawa lindu

Lindu membawa longsor

Longsor membawa air

Air membawa banjir

Banjir membawa air



air

mata



Kita telah saksikan seribu tanda-tanda

Bisakah kita membaca tanda-tanda?



Allah

Kami telah membaca gempa

Kami telah disapu banjir

Kami telah dihalau api dan hama

Kami telah dihujani abu dan batu



Allah

Ampuni dosa-dosa kami



Beri kami kearifan membaca

Seribu tanda-tanda



Karena ada sesuatu yang rasanya

mulai lepas dari tangan

dan meluncur lewat sela-sela jari



Karena ada sesuatu yang mulanya

tak begitu jelas

tapi kini kami

mulai

merindukannya.



1982



Menengadah Keatas, Merenungi Ozon Yang Tak Tampak



Langit masih biru di atas halaman dan kampungku

Awan dengan beberapa juta jemarinya,

saling berpegangan bergugus-gugusan

Mereka bergerak perlahan bagaikan enggan

Masih adakah angin yang bertugas dalam keindahan

Aku tidak mendengar lagi suara unggas dan siamang

Seperti di desaku Baruh, di masa kanakku

Kini yang beringsut adalah gemuruh kendaraan

Menderu di jalanan kota besar

Menderu di jalanan kota sedang

Menderu di jalanan kota kecil

Semua berkejaran dalam jalur nafkah dunia

Semua menanam mesin dan menabur industri

Semua memburu panen angka-angka

Bergumam dan menderam dalam paduan suara

Kemudian selesma, bersin lalu terbatuk-batuk

Punggungmu jadi terbungkuk-bungkuk

Siapa yang akan mengurutmu di bagian tengkuk

Danau yang menyimpan warna biru

kenapa engkau jadi kelam dan hijau

Sungai yang meluncurkan air berkilau

Kenapa engkau keruh, suaramu sengau

Hutan yang menutup daratan, perbukitan dan gunung

kudengar tangismu dipanggang nyala api

seraya kesakitan engkau melahirkan

luasan gurun pasir kering kerontang

Mereka menggergaji dua lubang raksasa di atas sana

Terdengarkah olehmu gemeretak suaranya

Pasukan klor yang garang membantai lapisan ozon

Dan lewat sobekan-sobekannya

menerjuni kawah stratosfer menganga



Meluncur-luncurlah gerimis sinar ultra ungu

Menusuki kulit bumi

Menusuki daun-daunan

Menusuki kulit kita

dan mengukir rajah kanker

dengan tinta ultra ungu

Dan makin panaslah kulit bumi

Engkau akan jadi penghuni padang pasir

Aku akan mengukur bentangan kersik membara

Di atas unggun ini

Akan kita kemanakan anak-cucu kita

Bongkahan es di kedua kutub, utara selatan

Dikabarkan meleleh perlahan-lahan

Menggenangi kota-kota pelabuhan

Di atas unggun, dikepung pasang lautan

Akan kita kemanakan anak-cucu kita

Mereka bertanya

Masih adakah angin yang bertugas dalam keindahan

Engkau terpaksalah berkata

Ada memang getar sejuta senar gitar

Tapi kini nyanyian lagu radiasi

Yang melelehkan air mata terlambat sekali

Jatuh membasahi catatan-catatan keserakahan

Ketika semua menanam mesin dan menabur industri

Ketika semua memburu panen angka-angka

Berkejaran dalam jalur nafkah dunia

Lalai membaca isyarat-isyarat demikian jelasnya

Dari Pemilik Semesta yang menitipkan ciptaanNya

Pada kita semua.



1989



Lingkungan Mati


Kau sebut orang bicara tentang hijau daunan, rimbun

pepohonan, bermilyar kilometer kubik air yang

memadat, mencair dan menguap, garis gunung dan

lembah yang serasi, komposisi zat asam yang rapi

dalam harmoni,

Tapi yang nampak oleh mataku orang-orang bertanam

tebu seluas lapangan sepakbola di bibir mereka.

Kau bercerita orang bicara tentang serangga dan fisika

tanah, unggas dan kimia udara, ikan dan habitat laut-

an, manusia dan tetangganya, bumi dan klimatologi,

Tapi yang terdengar oleh telingaku adalah serangkai lagu

dimainkan lewat instrumen tua sudah, dan bertabur

debu.

Kau tulis orang telah bicara mengenai rekayasa genetika

padi dan sapi, penggergajian kayu dan pengedukan

mineral bumi, penyuburan industri dan transportasi,

distribusi laba dan budaya, pemerataan angka-angka

di atas bilangan jajaran kepala demi kepala,

Tapi yang terasa olehku adalah dusta yang bergincu lalu

ejekan terus-terusan pada kemiskinan, perpacuan

dalam keserakahan, dengan paduan suara pengatas-

namaan dengan penuh keteraturan.

Kau ingat-ingatkan aku tentang harmoni budaya antara

tetumbuhan – hewan – angkasa – perairan – dan manu-

sia, lalu kau beri aku 1000 kauseri tentang kemanu-

siaan yang adil dan beradab, serta 1000 petunjuk

mengenai sivilisasi yang lestari,

Yang kulihat di layar kaca adalah hewan diadu hewan

untuk mengeruk isi kantong wisatawan walau itu

jelas melanggar peraturan, manusia diadu manusia

walau itu menghina otak manusia dan menggilas

akal waras, semua itu cuma karena kalap pada

sepotong nama dan serakah pada sejumlah rupiah,

Kau bercerita tentang orang yang berkata bahwa sesudah

hewan diadu hewan dan hewan diadu manusia

budaya jahiliah diresmikan sah, lalu manusia diadu

manusia bermula dengan pemujaan pada kepalan

dan luas-luas dipertontonkan, lalu naik satu tangga

manusia diadu manusia dengan senjata, naik tangga

berikutnya keroyokan atau pembantaian manusia

pada rakyat sendiri atau bangsa lain, dengan bedil

sundut bom napalm atau hulu nuklir, dengan ciri

kekerasan dan penindasan yang makin naik kelas

dalam kebiadaban, maka paripurnalah perusakan

pada kehidupan lingkungan.

Kau berkata orang masih juga bicara tentang lingkungan

hidup,

Aneh ingatanku malah-terpaku kini

pada

lingkungan

mati.

1990

Tidak ada komentar:

Posting Komentar