ini link di FB mele
BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM
ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH
Hmmm... entah kenapa, jadi suka puisi Taufiq Ismail.. mungkin gara2 mas TUKANG UMUK sering ngasih puisi, baik karangan Gusmus atau Taufik Ismail.. share dikit ah.. hehe..
selamat menyimak..
TAUFIQ ISMAIL
http://taufiqismail.com/
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia.
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat¬sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar¬besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak putus dilarang-larang
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula pembantahan tarang-terangan yang merupakan dusta terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia.
1998
Malam Seribu Bulan
Malam biru hitam
Di planit tua ini
Ketika margasatwa
Suhu. Suara. Perpohonan
Embun mengendapkan intan
Angin membisiki hutan
Gunung jadi keristal
Bisu,
Sungai-sungai menahan
Napasnya
Sumbu bumi berhenti
Ketika sangkakala angkasa
Ditiup pelahan
Dalam suara
Firdausi
Ketika Mukjizat turun
Ketika Sifat Rahim mengalun
Di planit tua ini
Dan gerbang kosmos
Dibuka
Dalam angin berkelepakan
Sayap-sayap malaikat
Dengan cahaya suarga
Meluncur-luncur
Melinangi bumi
Ketika bulan akan sabit
Dan berjuta bintang
Gemerlap
Dan manusia menangis
Di bumi
Di bawah Nur Ilahi
Pada malam benderang
Ketika margasatwa senyap
Waktu pun berhenti
Embun membasahi dahi
Pohon-pohon menunduk
Wahai:
Mukjizat telah turun
Sifat Rahim mengalun
Lelaki itu
Perempuan itu
Menangis dalam syukur
Berair mata dalam doa
Dalam teduh Mukjizat dan Keampunan
Ketika bulan belum sabit
Ketika malam seribu bulan.
1965
Membaca Tanda-Tanda
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas
dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merindukannya
Kita saksikan udara
abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau
yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil
tak lagi berkicau pagi hari
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan
hutan
Kita saksikan zat asam
didesak asam arang
dan karbon dioksid itu
menggilas paru-paru
Kita saksikan
Gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air
air
mata
Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?
Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu
Allah
Ampuni dosa-dosa kami
Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda
Karena ada sesuatu yang rasanya
mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari
Karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai
merindukannya.
1982
Menengadah Keatas, Merenungi Ozon Yang Tak Tampak
Langit masih biru di atas halaman dan kampungku
Awan dengan beberapa juta jemarinya,
saling berpegangan bergugus-gugusan
Mereka bergerak perlahan bagaikan enggan
Masih adakah angin yang bertugas dalam keindahan
Aku tidak mendengar lagi suara unggas dan siamang
Seperti di desaku Baruh, di masa kanakku
Kini yang beringsut adalah gemuruh kendaraan
Menderu di jalanan kota besar
Menderu di jalanan kota sedang
Menderu di jalanan kota kecil
Semua berkejaran dalam jalur nafkah dunia
Semua menanam mesin dan menabur industri
Semua memburu panen angka-angka
Bergumam dan menderam dalam paduan suara
Kemudian selesma, bersin lalu terbatuk-batuk
Punggungmu jadi terbungkuk-bungkuk
Siapa yang akan mengurutmu di bagian tengkuk
Danau yang menyimpan warna biru
kenapa engkau jadi kelam dan hijau
Sungai yang meluncurkan air berkilau
Kenapa engkau keruh, suaramu sengau
Hutan yang menutup daratan, perbukitan dan gunung
kudengar tangismu dipanggang nyala api
seraya kesakitan engkau melahirkan
luasan gurun pasir kering kerontang
Mereka menggergaji dua lubang raksasa di atas sana
Terdengarkah olehmu gemeretak suaranya
Pasukan klor yang garang membantai lapisan ozon
Dan lewat sobekan-sobekannya
menerjuni kawah stratosfer menganga
Meluncur-luncurlah gerimis sinar ultra ungu
Menusuki kulit bumi
Menusuki daun-daunan
Menusuki kulit kita
dan mengukir rajah kanker
dengan tinta ultra ungu
Dan makin panaslah kulit bumi
Engkau akan jadi penghuni padang pasir
Aku akan mengukur bentangan kersik membara
Di atas unggun ini
Akan kita kemanakan anak-cucu kita
Bongkahan es di kedua kutub, utara selatan
Dikabarkan meleleh perlahan-lahan
Menggenangi kota-kota pelabuhan
Di atas unggun, dikepung pasang lautan
Akan kita kemanakan anak-cucu kita
Mereka bertanya
Masih adakah angin yang bertugas dalam keindahan
Engkau terpaksalah berkata
Ada memang getar sejuta senar gitar
Tapi kini nyanyian lagu radiasi
Yang melelehkan air mata terlambat sekali
Jatuh membasahi catatan-catatan keserakahan
Ketika semua menanam mesin dan menabur industri
Ketika semua memburu panen angka-angka
Berkejaran dalam jalur nafkah dunia
Lalai membaca isyarat-isyarat demikian jelasnya
Dari Pemilik Semesta yang menitipkan ciptaanNya
Pada kita semua.
1989
Lingkungan Mati
Kau sebut orang bicara tentang hijau daunan, rimbun
pepohonan, bermilyar kilometer kubik air yang
memadat, mencair dan menguap, garis gunung dan
lembah yang serasi, komposisi zat asam yang rapi
dalam harmoni,
Tapi yang nampak oleh mataku orang-orang bertanam
tebu seluas lapangan sepakbola di bibir mereka.
Kau bercerita orang bicara tentang serangga dan fisika
tanah, unggas dan kimia udara, ikan dan habitat laut-
an, manusia dan tetangganya, bumi dan klimatologi,
Tapi yang terdengar oleh telingaku adalah serangkai lagu
dimainkan lewat instrumen tua sudah, dan bertabur
debu.
Kau tulis orang telah bicara mengenai rekayasa genetika
padi dan sapi, penggergajian kayu dan pengedukan
mineral bumi, penyuburan industri dan transportasi,
distribusi laba dan budaya, pemerataan angka-angka
di atas bilangan jajaran kepala demi kepala,
Tapi yang terasa olehku adalah dusta yang bergincu lalu
ejekan terus-terusan pada kemiskinan, perpacuan
dalam keserakahan, dengan paduan suara pengatas-
namaan dengan penuh keteraturan.
Kau ingat-ingatkan aku tentang harmoni budaya antara
tetumbuhan – hewan – angkasa – perairan – dan manu-
sia, lalu kau beri aku 1000 kauseri tentang kemanu-
siaan yang adil dan beradab, serta 1000 petunjuk
mengenai sivilisasi yang lestari,
Yang kulihat di layar kaca adalah hewan diadu hewan
untuk mengeruk isi kantong wisatawan walau itu
jelas melanggar peraturan, manusia diadu manusia
walau itu menghina otak manusia dan menggilas
akal waras, semua itu cuma karena kalap pada
sepotong nama dan serakah pada sejumlah rupiah,
Kau bercerita tentang orang yang berkata bahwa sesudah
hewan diadu hewan dan hewan diadu manusia
budaya jahiliah diresmikan sah, lalu manusia diadu
manusia bermula dengan pemujaan pada kepalan
dan luas-luas dipertontonkan, lalu naik satu tangga
manusia diadu manusia dengan senjata, naik tangga
berikutnya keroyokan atau pembantaian manusia
pada rakyat sendiri atau bangsa lain, dengan bedil
sundut bom napalm atau hulu nuklir, dengan ciri
kekerasan dan penindasan yang makin naik kelas
dalam kebiadaban, maka paripurnalah perusakan
pada kehidupan lingkungan.
Kau berkata orang masih juga bicara tentang lingkungan
hidup,
Aneh ingatanku malah-terpaku kini
pada
lingkungan
mati.
1990
Assalamu Alaikum... ^_^
welcome to the Melanie's world
Entri Populer
-
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150577217153765 BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH Da...
-
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh Mungkin note di bawah ini terlalu panjang, tapi bagi ...
-
diambil dari FB mele.. click here to see BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH Satu hari, Plato berta...
-
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150692384208765 OH, BUMIKU TERCINTA.. ^_^ by Melanie Mele Al Milhan on Sunday, 15 January 2012...
-
ini link di FB mele BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH Hmmm... entah kenapa, jadi suka puisi Tauf...
-
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh “Kisah yang indah, mengapa kita membaca Al Quran, sek...
-
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH Title : Pemuda dan Seorang Ustadz (The Young Mand an...
-
click here to see this on my FB BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH Sekali2, mele mau share tentang ...
-
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150511608648765 BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH Sebua...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar